Kamis,
04 februari 2016
Alkil
halida bereaksi dengan nukleofil dan basa
Alkil halida
paling banyak ditemui sebagai zat antara dalam sintesis. Mereka
dengan mudah diubah ke dalam
berbagai jenis senyawa lain, dan dapat diperoleh
melalui banyak cara. Reaksi alkil
halida yang banyak itu dapat dikelompokkan dalam
dua kelompok, yaitu reaksi
substitusi dan reaksi eliminasi.
Alkil halida terpolariasi pada
ikatan karbon – halida menjadikan karbon elektrofilik. Nukleofil akan
menggantikan posisi halida pada ikatan C-X dari berbagai alkil halida (reaksi
sebagai basa Lewis). Nukleofil yang basa Brønsted menghasilkan eliminasi.
Konsep
asam basa menurut beberapa ahli:
1.
Teori Asam dan Basa Lewis
·
Asam adalah spesi yang
bertindak sebagai akseptor pasangan elektron bebas.
·
Basa adalah spesi yang
bertindak sebagai donor pasangan elektron bebas.
2. Teori Asam Basa Bronsted Lowry
·
Asam didefinisikan sebagai senyawa yang jika terdisosiasi di dalam larutan
akuatik membebaskan H+ (ion hidrogen).
·
Basa didefinisikan sebagai
senyawa yang jika terdisosiasi dalam larutan akuatik membebaskan OH− (ion
hidroksida).
3. Teori
Asam dan Basa Arrhenius
·
Asam adalah zat yang apabila
dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion H+. Akibat kelebihan ion H+ maka
air yang sudah ditambahkan zat asam disebut sebagai larutan asam.
·
Basa adalah zat yang apabila dilarutkan dalam
air dapat menghasilkan ion OH-. Akibat kelebihan ion OH- maka air yang sudah
ditambahkan zat basa disebut sebagai larutan basa.
Penemuan
Reaksi Substitusi Nukleofilik
Tahun 1896,
Walden melihat bahwa asam (-)-malat dapat dirubah menjadi asam (+)-malat
melalui tahapan reaksi kimia dengan pereaksi a-kiral. Penemuan ini yang
mengaitkan hubungan langsung putaran optik dengan kekiralan dan perubahannya melalui
alterasi kimia;
·
Reaksi
asam (-)-malat dengan PCl5 menghasilkan asam (+)-klorosuksinat.
·
Reaksi
lebih lanjut dengan perak oksida dalam air menghasilkan asam (+)-malat.
·
Tahapan
reaksi diawali dengan asam (+) malat menghasilkan asam (-)-malat.
Reaksi alterasi terjadi pada pusat kiral,Reaksi
melibatkan substitusi pada pusat kiral
Jadi, substitusi nukleofilik dapat menginversi konfigurasi pada pusat
kiral, Adanya gugus karboksil pada asam malat menimbulkan perdebatan mengenai
sifat reaksi
siklus Walden.
Reaksi inversi
Walden
Signifikansi
inversi Walden
·
Reaksi alterasi terjadi pada pusat kiral.
·
Reaksi melibatkan substitusi pada pusat kiral.
·
Jadi, substitusi nukleofilik dapat
menginversi konfigurasi pada pusat kiral.
·
Adanya gugus karboksil pada asam
malat menimbulkan perdebatan mengenai sifat reaksi siklus Walden.
Mekanisme Reaksi Substitusi
Nukleofilik Pada dasarnya terdapat dua mekanisme reaksi substitusi nukleofilik.
Mereka dilambangkan dengan SN2 adan SN1. Bagian SN menunjukkan substitusi
nukleofilik, sedangkan arti 1 dan 2 akan dijelaskan kemudian.
1. Reaksi SN2
Mekanisme
SN2 adalah proses satu tahap yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Nukleofil menyerang dari belakang
ikatan C-X. Pada keadaan transisi, nukleofil dan gugus pergi berasosiasi dengan
karbon di mana substitusi akan terjadi. Pada saat gugus pergi terlepas dengan
membawa pasangan elektron, nukleofil memberikan pasangan elektronnya untuk
dijadikan pasangan elektron dengan karbon. Notasi 2 menyatakan bahwa reaksi
adalah bimolekuler, yaitu nukleofil dan substrat terlibat dalam langkah penentu
kecepatan reaksi dalam mekanisme reaksi.
Adapun ciri
reaksi SN2 adalah:
1. Karena nukleofil dan substrat terlibat dalam
langkah penentu kecepatan reaksi, maka kecepatan reaksi tergantung pada
konsentrasi kedua spesies tersebut.
2. Reaksi terjadi dengan pembalikan (inversi)
konfigurasi. Misalnya jika kita mereaksikan (R)-2-bromobutana dengan natrium
hidroksida, akan diperoleh (S)-2-butanol.Ion hidroksida menyerang dari belakang
ikatan C-Br. Pada saat substitusi terjadi, ketiga gugus yang terikat pada
karbon sp3 kiral itu seolah-olah terdorong oleh suatu bidang datar sehingga
membalik. Karena dalam molekul ini OH mempunyai perioritas yang sama dengan Br,
tentu hasilnya adalah (S)-2-butanol. Jadi reaksi SN2 memberikan hasil
inversi.
3. Jika substrat R-L bereaksi melalui mekanisme SN2,
reaksi terjadi lebih cepat apabila R merupakan gugus metil atau primer, dan
lambat jika R adalah gugus tersier. Gugus R sekunder mempunyai kecepatan
pertengahan. Alasan untuk urutan ini adalah adanya efek rintangan sterik.
Rintangan sterik gugus R meningkat dari metil < primer < sekunder <
tersier. Jadi kecenderungan reaksi SN2 terjadi pada alkil halida adalah: metil
> primer > sekunder >> tersier.
a)
Keadaan Transisi SN2
Keadaan
transisi reaksi SN2 memiliki susunan atom karbon planar dari sisa tiga gugus.
b)
Karakteristik reaksi SN2
·
Sensitif terhadap efek sterik.
·
Metil halida paling reaktif.
·
Selanjutnya alkil halida primer adalah yang paling
reaktif.
·
Alkil halida sekunder masih dapat bereaksi.
·
Yang tersier tidak reaktif.
·
Tidak terjadi reaksi pada C=C (vinyl halida).
c)
Efek Sterik reaksi SN2
Atom
karbon pada (a) bromometana siap diakses untuk menghasilkan reaksi SN2 yang
cepat. Atom karbon pada (b) bromoetana (primer), (c) 2-bromopropana (sekunder),
dan (d) 2-bromo-2-metilpropana (tersier) adalah lebih sesak, sehingga reaksi SN2
lebih lambat.
d)
Orde Reaksi pada SN2
Semakin
banyak gugus alkil yang terikat pada karbon pusat reaksi, reaksi lebih lambat.
2. Reaksi
SN1
Alkil halida tersier
bereaksi cepat dalam pelarut protik melalui mekanisme yang melibatkan
pembebasan gugus lepas sebelum terjadi addisi nukleofil. Disebut reaksi SN1 – terjadi
dalam dua tahap sedangkan SN2 terjadi dua tahapan dalam waktu yang sama. Jika
nukleofil ada dalam konsentrasi yang wajar (atau itu adalah
pelarut), maka ionisasi adalah langkah paling lambat.
a.
Karakteristik
Reaksi SN1
·
Alkil halida tersier
adalah yang paling reaktif pada mekanisme ini
·
Reaksi dikontrol oleh kestabilan karbokation
·
Menurut postulat Hammond,”Setiap faktor yang menstabilkan
intermediet berenergi tinggi akan menstabilkan keadaan transisi mengarah ke
intermediet”.
Bila adisi nuleofilik terjadi setelah pembentukan karbokation,
laju reaksi biasanya tidak dipengaruhi oleh konsentrasi nukleofil
b.
Pelarut
pada SN1
·
Menstabilkan
karbokation juga menstabilkankeadaan transisi dan kontrol jalu reaksi
·
Efek pelarut pada
reaksi SN1 sebagian besar untukmenstabilkan atau mendestabilkan keadaan
transisi
c. Pelarut polar memudahkan Ionisasi
·
Pelarut polar, protik
dan basa Lewis tidak reaktif memudahkan terbentuknya R+
·
Kepolaran pelarut
diukur sebagai polarisasi dielectrik (P)
1) Pelarut
nonpolar mempunyai P rendah
2) Pelarut
polar mempunyai P tinggi
Baiklah teman-teman dari materi pada kali ini, saya kurang mengerti tentang pengaruh reaktan dan tingkat energi keadaan transisi terhadap kecepatan reaksi pada reaksi SN2. bagi teman-teman yang mengerti mohon penjelasan nya?
Baiklah rian saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari anda,menurut saya pengaruh reaktan dan tingkat energi keadaan transisi terhadap kecepatan reaksi,makin tinggi tingkat energi reaktan(kurva merah) maka reaksi makin cepat dan Delta G lebih kecil.Makin tinggi tingkat energi keadaan transisi(kurva merah)reaksi makin lambat dan Delta G lebih besar.
BalasHapusMenurut saya seperti itu,terima kasih.
baik saudara rian saya mencoba sedikit menjawab dari pertanyaan anda, pengaruh reaktan dan tingkat energi keadaan transisi terhadap kecepatan reaksi pada sn2, dimana menurut teori yang saya baca keadaan transisi terhadap kecepatan reaksi
BalasHapusMakin tinggi tingkat energi reaktan (kurva merah) = reaksi makin cepat (ΔG‡ lebih kecil).Makin tinggi tingkat energi keadaan transisi (kurva merah) = reaksi makin lambat (ΔG‡ lebih besar)
kurang lebih sama dengan teman-teman yang lainnya tingkat energi reaktan makin tinggi maka reaksi makin cepat dan delta G lebih kecil. makin tinggi tingkat keadaan transisi reaksi makin lambat dan delta G lebih besar
BalasHapus