Kamis,
25 februari 2016
Pengertian
senyawa organometalik
Senyawa
organologam adalah senyawa di mana atom-atom karbon dari gugus organik terikat
kepada atom logam. Contoh, suatu aloksida seperti (C3H7O)4Ti
tidaklah dianggap sebagai suatu senyawa organologam karena gugus organiknya
terikat pada Ti melalui oksigen, sedangkan C6H5Ti(OC3H7)3
karena terdapat satu ikatan langsung antara karbon C dari gugus fenil dengan
logam Ti.HH Istilah organologam biasanya didefenisikan agak longgar, dan
senyawaan dari unsur-unsur seperti Boron, fosfor, dan silikon semuanya mirip
logam. Tetapi untuk senyawa yang mengandung ikatan antara atom logam dengan
oksigen, belerang, nitrogen, ataupun dengan suatu halogen tidak termasuk
sebagai senyawa organologam. Dari bentuk ikatan pada senyawa organologam,
senyawa ini dapat dikatakan sebagai jembatan antara kimia organik dan
anorganik.
Jenis-jenis
ikatan pada senyawa organometalik
Terdapat
beberapa kecenderungan jenis-jenis ikatan yang terbentuk pada senyawaan
organologam:
a.
Senyawaan ionik dari logam elektropositif
Senyawaan organo dari logam yang
relatif sangat elektropositif umumnya bersifat ionik, tidak larut dalam pelarut
organik, dan sangat reaktif terhadap udara dan air. Senyawa ini terbentuk bila
suatu radikal pada logam terikat pada logam dengan keelektropositifan yang
sangat tinggi, misalnya logam alkali atau alkali tanah. Kestabilan dan
kereaktifan senyawaan ionik ditentukan dalam satu bagian oleh kestabilan ion
karbon. Garam logam ion-ion karbon yang kestabilannya diperkuat oleh
delokalisasi elektron lebih stabil walaupun masih relatif reaktif. Adapun
contoh gugus organik dalam garam-garaman tersebut seperti (C6H5)3C-Na+
dan (C5H5)2Ca2+.
b.
Senyawaan yang memiliki ikatan -σ (sigma)
Senyawaan organologam dimana sisa
organiknya terikat pada suatu atom logam dengan suatu ikatan yang digolongkan
sebagai ikatan kovalen (walaupun masih ada karakter-karakter ionik dari
senyawaan ini) yang dibentuk oleh kebanyakan logam dengan keelektropositifan
yang relatif lebih rendah dari golongan pertama di atas, dan sehubungan dengan
beberapa faktor berikut:
1.
Kemungkinan penggunaan orbital d yang lebih tinggi, seperti pada SiR4
yang tidak tampak dalam CR4.
2.
Kemampuan donor alkil atau aril dengan pasangan elektron menyendiri.
3.
Keasaman Lewis sehubungan dengan kulit valensi yang tidak penuh seperti ada BR2
atau koordinasi tak jenuh seperti ZnR2.
4.
Pengaruh perbedaan keelektronegatifan antara ikatan logam-karbon (M-C) atau karbon-karbon
(C-C).
c.
Senyawaan yang terikat secara nonklasik
Konsep dasar Organologam dan Reaksi-reaksi Pembentukan
Organologam
Pada dasarnya Organologam prinsipnya
yaitu atom-atom Karbon dari gugus organik terikat kepada atom logam. Konsep ini
yang mendasari Organologam, sehingga banyak cara untuk menghasilkan
ikatan-ikatan logam pada Carbon yang berguna bagi kedua logam transisi dan
non-transisi. Beberapa yang lebih penting adalah sebagai berikut:
1. Reaksi Logam langsung ; sintesis yang paling awal oleh
ahli kimia Inggris, Frankland dalam
tahun 1845 adalah interaksi antara Zn dan suatu alkil Halida. Adapun yang lebih
berguna adalah penemuan ahli kimia Perancis, Grignard yang dikenal sebagai
pereaksi Grignard. Contohnya interaksi Magnesium dan alkil atau aril Halida
dalam eter:
Mg + CH3I
→ CH3MgI
Interaksi langsung
alkil atau aril Halida juga terjadi dengan Li, Na, K, Ca, Zn dan Cd.
2. Penggunaan zat pengalkilasi. Senyawa ini dimanfaatkan
untuk membuat senyawa organologam lainnya. Kebanyakan Halida nonlogam dan logam
atau turunan Halida dapat dialkilasi dalam eter atau pelarut hidrokarbon,
misalnya :
PCl3 +
3C6H5MgCl → P(C6H5)3
+ 3MgCl2
VOCl3
+ 3(CH3)3SiCH2MgCl → VO(CH2SiMe3)3
+ 3MgCl2
3. Interaksi Hidrida Logam atau nonlogam dengan alkena
atau alkuna.
4. Reaksi Oksidatif adisi. Reaksi yang dikenal sebagai
reaksi Oksa dimana Alkil atau Aril Halida ditambahkan pada senyawa logam
transisi Koordinasi tidak jenuh menghasilkan ikatan logam Karbon. Contohnya:
RhCl(PPh3)3
+ CH3I → RhClI(CH3)(PPh3)2 + PPh3
Ikatan
pada senyawa organometalik
Terdapat dua macam ikatan
organologam, yaitu :
·
a. Ikatan ionik. Ikatan ionik organologam terbentuk
dari unsur yang sangat elektropositif yaitu unsur pada golongan I, II, dan III.
Organologam dengan yang berikatan secara ionik bersifat tak larut dalam pelarut
hidrokarbon dan mudah teroksidasi.
Mengapa
reagen grignard bermuatan positif dan negatif di sebut ikatan kovalen
polar bukan ikatan ion?
Ikatan kovalen polar karena mendominasi besar gaya
karbonisasi semakin kuat, grignard dan karbonion nya yang dominan sehingga
pasangan elektron tidak terbagi secara sempurna. Jika bereaksi dengan RMg –X, maka
logam sangat mudah di singkirkan karena
dia sendiri bermuatan negatif karbonion
sangat mudah di netralisasi dengan asam lemah maka berhenti, reagen
grignard adalah basa yang sangat kuat, contoh nya: air, amin, asam karboksilat,alkuna
sangat mudah di netralisir karena banyak ikatan vi.
Grignat
bermuatan negatif(-)tidak bisa bereaksi dengan gugus negatif juga atau
elektrofik, tapi suka dengan dengan nukleofilik yang bermuatan(+) .
Bagaimana hasil dari reaksi antara epoksida sekunder
dengan reagen tersier ?
Jawab
Adapun
permasalahan yang ingin saya sampaikan yakni, bagaimana kita dapat memperoleh epoksida?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar